Desa Kepuhanyar Mojokerto Bertransformasi, dari Kumuh Menjadi Kawasan Asri dan Layak Huni
Desa Kepuhanyar, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, kini berbenah besar-besaran. Kawasan yang dulunya masuk kategori kumuh itu tengah disulap menjadi lingkungan yang tertata rapi dan sehat lewat program Penanganan Permukiman Kumuh Skala Kawasan Terpadu dan Terintegrasi.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa turun langsung meninjau progres pembangunan tersebut, Minggu 2 November 2025. Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kabupaten Mojokerto, dengan tujuan mewujudkan lingkungan layak huni sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.
Menurut data yang terpajang di lokasi proyek, total kawasan kumuh di Jawa Timur mencapai 8.117,23 hektare. Dari jumlah itu, Kabupaten Mojokerto menyumbang sekitar 246,51 hektare, termasuk Desa Kepuhanyar yang memiliki area kumuh seluas 10,07 hektare. Melalui program terpadu ini, wilayah tersebut ditargetkan bebas dari status kumuh.
Khofifah menjelaskan, penataan permukiman di Kepuhanyar merupakan bagian dari program besar untuk memperbaiki kualitas tempat tinggal masyarakat di berbagai daerah di Jawa Timur.
“Kita melakukan perbaikan terhadap sekitar 1.900 rumah tidak layak huni menjadi rumah yang layak huni. Program ini tersebar di sejumlah kabupaten, dan insya Allah akan ditutup pada 11 November nanti bersama Pak Pangdam di Mojokerto,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa penyediaan rumah layak huni merupakan kebutuhan dasar yang tidak bisa ditawar. “Masyarakat harus bisa menikmati tempat tinggal yang layak. Ini kebutuhan fundamental yang menentukan kualitas hidup mereka,” ujarnya.
Konsep pembangunan di Desa Kepuhanyar sendiri dirancang secara menyeluruh dan berkelanjutan. Tak hanya memperbaiki rumah warga, proyek ini juga meliputi pembangunan sarana air bersih, sistem drainase, serta pengolahan sampah dengan metode 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
“Kalau nanti penerangan jalan umum sudah menyala semua, pengelolaan sampahnya berjalan baik, dan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) berfungsi, di sini ada tiga IPAL, maka kawasan ini akan menjadi permukiman yang benar-benar sehat dan nyaman,” papar Khofifah.
Program penataan kawasan kumuh ini menjadi bukti nyata sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, dan daerah. Lebih dari sekadar proyek fisik, inisiatif ini diharapkan mampu mendorong perubahan sosial dan ekonomi masyarakat Mojokerto menuju kehidupan yang lebih baik.
Advertisement