Sate Ayam Kuliner Nusantara Penuh Citarasa, Mantan Presiden AS Barack Obama Pun Tergoda
Manta Presiden Amerika Serikat ( AS ) Barack Obama, sangat menyukai kuliner Indonesia Sate Ayam. Masa kecil waktu tinggal di kawasan Menteng Jakarta Pusat, hampir setiap malam oleh orang tuanya di belikan sate ayam yang dijajakan menggunakan gorobak dorong.
Kesukaannya terhadap sate ayam itu diungkapkan ketika Obama berada di Kampus Universitas Indonesia ( UI) Depok pada 9 November 2010. "Waktu tinggal di Indonesia saya suka makan sate dan bakso, enak," kenang Obama saat beraudensi dengan mahasiswa Ui. Ucapannya itu langsung disambut tepuk tangan oleh para mahasiswa dan civitas akademika UI "Sate! Bakso! ," ,teriak Obama menirkkan suara pejual sate dan bakso saat menarik pembeli. Teriakan itu sontak mengundang tawa dan tepuk- tepuk tangan semakin seru, mencermikan kedekatan emosional antara Obama dengan mahasisws UI melaluo diplomasi sate syam.
Selain rendang, sate adalah salah satu kuliner khas Indonesia yang telah mendunia. Jenis kuliner yang satu ini terbuat dari daging yang ditusuk lalu dibakar. Di Indonesia terdapat beraneka ragam jenis sate yang berasal dari daerahny masing-masing, salah satunya adalah Sate Ayam Madura
Siapa yang tak suka dengan Sate Ayam Madura? Hampir seluruh masyarakat Indonesia tentu sudah pernah mencicipi sate ini.
Sesuai dengan namanya sate ayam ini berasal dari Madura, Jawa Timur. Sate yang terdiri dari daging ayam yang ditusuk kemudian dibakar di atas bara api lalu dicampur dengan bumbu kacang ini memiliki rasa yang manis dan legit. Dengan cita rasanya yang lezat dan gurih, sate ini menjadi favorit banyak orang.
Sate Ayam biasanya disajikan dengan irisan lontong atau nasi tergantung selera lidah masing masing. Dimakan dengan nasi atau lntong sema enaknya.
Filosofi di Balik Sate Madura
Kawan lama wartawan Ngopibareng.id Zawai Imron bercerita tentang filosofi dan asal usul Sate Madura. Budayawan yan juga Kia Kampung ini menjelaskan bahwa filosofi dari Sate Madura yaitu menyatukan setiap elemen dan disatukan menjadi sebuah kesatuan. "Bhineka tunggal ika, berbagai potong daging disatukan dalam satu tusukan," begitulah gampangnya kata Zawawi.
Konon, asal muasal Sate Madura Berawal dari Arya Panoleh, penguasa di Sumenep, Jawa Timur yang berkunjung ke rumah kakaknya, Batara Katong sang penguasa Ponorogo. Saat itu Arya Panoleh menggunakan pakaian warok serba hitam dan kaos bergaris-garis ciri khas orang Madura.
Di tempat kakaknya, Arya Panoleh disuguhi makanan dengan bahan dasar daging berbumbu yang ditusuk lidi, namun Arya Panoleh menolak karena rasanya tidak sesuai dengan lidahnya.
Setelah kakaknya bercerita jika makanan tersebut biasa dimakan oleh para pendekar di Ponorogo, akhirnya Arya Panoleh mau memakan sate tersebut. Karena kenikmatannya, kemudian oleh Arya Panoleh makanan ini diubah menyesuaikan kebudayaan dan kesukaan masyarakat Madura. Di Indonesia ada dua jenis sate yang cukup terkenal, yaitu Sate Ayam Madura dan Satw Ayam Ponorogo. Tetapi kepopulerannya masih kalah dengan Sate Ayam Madura yang ada di seluruh nusantara.
Pengolahan Sate Ayam Madura ini hampir mirip dengan sate pada umumnya. Prosesnya yang sederhana membuat makanan ini dapat dipraktekkan sendiri.
Dalam sejarahnya ada tiga cara penjual sate menarik pembeli.
Menjajakan ssecara tradisional menggunakan gerobak dorong yang bentuknya menyerupai kapal, 'disungun' diatas yang biasanya dilakukan peremuan sambil berteriak "Sateeee!" sekeras kerasnya. Dua cara ini sekarang sulit ditemui. Kebanyakan penjual sate mempunyai tempat mangkal di satu titik, pembelinya yang datang.
Tinggal Satu Satunya
Di daerah Menur Surabaya, Ngopibarwng.id menjumpai seorang pedagang sete ayam tradisional dengan cara dsunggi di atas kepala, namanya Bok Siti.
Menempatkan barang dagangan di atas kepala bukan pekerjaan mudah, tidak bisa dilakukan semua orang. "Kalau tidal biasa numplek," kata Bok Siti.
Peremuan asal madura yang tinggal di daerah Karang Menjangan menyebut dirinya penjaja sate ayam keliling satu satunya. Yang lain sudah tamat riwayatnya, karena faktor usia. "Saya berjualan sate ayam keliling darah Manyar dan Menyar selama 38 tahun. Ikut jualan sejak masih gadis umur 20 tahun, sekarang umur saya 58 tahun,"kata ibu dua anak tersebut.
Ia menjumpai pelanggannya dua kali sehari, pagi dan sore. Para pelanggan sudah mengenal suara Bok Siti yang melenging. Pelanggan kebanyakan anak anak. Bapak ibunya dulu waktu kecil juga pelanggannya. "Sekarang anak anaknya yang jadi langganan," kenang Bok Siti.
Mengingat pelanggan kebanyakan anak anak Bok Siti tidak menentukan tarif, Rp3000 pun dilayani. "Saya tidak tega melihat anak nangis kepingin sate, emaknya nggak punya uang, saya suru bayar kapan kapan," katanya.
Setiap hari ia membawa 300 - 500 tusuk sate, tergantung pada cuaca. Khusus lebaran harga setenya dinaikan, Sepuluh tusuk atau sejinah menjadi
Rp13.000, hari biasa Rp10.000. tetapi tetap lebih murah dibanding warung sate yang bisa mencapai Rp25 .000 sampai Rp 30.000/ 10 tusuk. Sedang lontong dan nasi ada harganya sendiri.
Pada lebaran hari kedua merupakan hari yang menyenangkan satenya diborong bekas pelanggannya dulu waktu kecil . " Pak Wahyu tadi beli 250 tusuk, dulu waktu masih kecil setiap pagi bersama ibunya mrnunggu saya lewat, merengek- rengek ke ibunya minta dibelikan sate," ujar Bok Siti. Ia menyebut palangganya banyak yang jadi orang, dan masih ingat dirinya. "Bayarnya selalu lebih kalau ada kembalian disuruh ambil," ujar Bok Siti sambil tersenyum.
Advertisement