Alsintan Perkuat Ketahanan Pangan di Sidoarjo, Produktivitas Padi Naik Signifikan
Upaya menjaga ketahanan pangan di tengah pesatnya urbanisasi terus digenjot Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Salah satu langkah konkret yang kini dirasakan langsung manfaatnya oleh petani adalah penyaluran bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan).
Program ini disalurkan melalui Komisi VII DPR RI bersama Kementerian Pertanian, dan difasilitasi Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Sidoarjo. Fokusnya jelas: meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menjawab tantangan serius seperti alih fungsi lahan, keterbatasan tenaga kerja, hingga tingginya rata-rata usia petani yang kini mayoritas di atas 40 tahun.
Produktivitas Padi Naik hingga 9 Ton per Hektare
Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Sidoarjo, Eny Rustianingsih, menjelaskan bahwa pemanfaatan teknologi pertanian modern membawa dampak nyata di lapangan.
βJika sebelumnya rata-rata produksi hanya sekitar 6,5 hingga 7 ton per hektare, sekarang sudah mencapai 8 hingga 9 ton per hektare. Di Kecamatan Tarik bahkan ada yang menyentuh 9 ton per hektare,β ujarnya, Jumat 20 Februari 2026.
Kenaikan ini bukan angka kecil. Dalam hitungan produksi massal, selisih satu hingga dua ton per hektare berarti tambahan hasil panen yang sangat signifikan bagi petani maupun daerah.
Menurut Eny, dukungan alsintan membuat pekerjaan petani jauh lebih efisien. Proses olah tanah, tanam, hingga panen bisa dilakukan lebih cepat dan presisi. Dampaknya bukan hanya pada kuantitas, tetapi juga kualitas hasil panen.
Surplus Pangan Lebih dari 100 Ribu Ton
Secara keseluruhan, Kabupaten Sidoarjo masih memiliki potensi pertanian yang kuat. Dengan luas lahan sekitar 18 ribu hektare, produksi gabah mampu mencapai kurang lebih 330 ribu ton dalam dua hingga tiga kali masa panen setiap tahun.
Sementara kebutuhan konsumsi masyarakat Sidoarjo diperkirakan sekitar 216 ribu ton per tahun. Artinya, terdapat surplus lebih dari 100 ribu ton.
Surplus ini menempatkan Sidoarjo sebagai salah satu daerah penyangga pangan penting di Jawa Timur. Di tengah tekanan urbanisasi dan pembangunan kawasan industri, capaian tersebut tentu patut diapresiasi.
Menarik Minat Generasi Muda
Yang tak kalah penting, kehadiran alsintan juga diharapkan mampu mengubah cara pandang generasi muda terhadap dunia pertanian.
βDengan alsintan, pertanian tidak lagi identik dengan pekerjaan berat dan kurang menjanjikan. Anak-anak petani bisa terlibat langsung mengelola lahan keluarga dengan pendekatan yang lebih modern dan menguntungkan,β jelas Eny.
Senada dengan itu, Anggota DPR RI Komisi VII, Bambang Haryo Soekartono, menegaskan bahwa bantuan ini merupakan aspirasi petani Sidoarjo yang diperjuangkan melalui pemerintah pusat.
Menurutnya, tujuan utama adalah mempercepat produktivitas sekaligus menjaga posisi surplus pangan daerah.
Ia bahkan mendorong adanya kolaborasi antara Dinas Pangan dan Pertanian dengan Dinas Pendidikan. Gagasannya cukup menarik: petani dijadikan guru atau role model di sekolah.
βPetani harus dijadikan guru pertanian. Dengan begitu, marwah petani naik sebagai pahlawan pangan, dan generasi muda tidak lagi memandang sektor ini sebelah mata,β tegasnya.
Ke depan, sinergi lintas sektor akan menjadi kunci. Ketahanan pangan bukan hanya soal produksi, tetapi juga soal regenerasi. Jika anak muda mulai melihat pertanian sebagai sektor modern dan menjanjikan, maka fondasi pangan daerah akan semakin kokoh.
Advertisement