Puthu Bambu Bu Rina, Pelestari Jajanan Khas Jawa Timur Makin Langka
Jawa Timur merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki beraneka macam kuliner jajanan tradisional. Hampir setiap daerah memiliki jajanan khas dengan nama dan cita rasa yang beragam, manis, legit serta gurih.
Di antara jajanan itu, ada yang namanya klepon, lupis, puthu, klanting, tiwul, srawut, pudak, onde-onde, brem, wingko babat, koci-koci brubi, apem, ketan salak, wajik, serabi, gethuk lindri, madumongso dan masih banyak lagi.
Sayangnya, beragam jajanan yang melengkapi kekayaan budaya nusantara itu kini semakin langka, tergerus oleh perkembangan zaman dan tersingkir oleh jajanan modern dalam kemasan.
Camilan yang sebelumnya mudah ditemukan di pasar tradisional dan pedagang keliling kini tinggal menyisakan nama dan cerita. Kalau toh masih ada untuk menemukannya cukup sulit.
Secara tidak sengaja Ngopibareng.id bertemu dengan penjual salah satu jajanan legendaris, "puthu bambu' yang mangkal di ujung Jalan Pucang Anom Timur III Surabaya. Outlet kaki lima yang dikelola Bu Rina bersama suaminya ini menyajikan lupis, klanting, brubi dan klepon di samping puthu bambu yang menjadi daya tarik.
Rina berjualan camilan di daerah Pucang Anom ini kurang lebih sudah 10 tahun, yaitu sejak berhenti sebagai pekerja di sebuah apotek di daerah Menur. Memutuskan beralih pekerjaan menjadi pedagang jajan tradisional untuk meneruskan usaha mertuanya.
"Mertua saya 55 tahun jualan Puthu di Jalan Ngaglik, dekat lapangan sepak bola Gelora 10 Nopember Tambaksari," kata Rina sambil melayani pembeli.
Rina berjualan hanya pada sore hari, berbagi tugas dengan suaminya. Rina bagian melayani pembeli yang tak pernah sepi, sedang suaminya bagian masak puthu. Puthu katanya yang banyak pembelinya dibanding camilan yang lain. Selain gurih pembeli tertarik cara memasaknya yang unik.
Kata Rina kue Puthu ini merupakan salah satu kue tradisional khas Jawa terbuat dari butiran kasar tepung beras, dengan isian gula merah dan bertabur parutan kelapa.
Puthu pada umumnya berwarna putih yang berasal dari tepung beras berwarna hijau yang berasal dari daun pandan. Puthu bambu konon pertama kali ada sekitar tahun 1630 di sebuah desa di Jawa Timur.
Puthu bambu menjadi salah satu jajanan tradisional yang dikenal oleh masyarakat Indonesia secara luas. Namun, di masa sekarang, sudah jarang ditemukan.
Biasanya, pedagang puthu bambu ini berkeliling dengan gerobaknya sambil menjajakan kue yang dimasak dadakan tersebut. Puthu bambu mudah dikenal masyarakat karena ciri khasnya saat dimasak. Medianya berupa bambu sebagai alat cetaknya.
Saat dimasak, kue puthu bambu mengeluarkan suara seperti peluit dan uap. Ciri khas suara dalam memasak puthu bambu terjadi karena adanya uap yang keluar dari celah kecil bambu sebagai alat cetakan.
Kue puthu bambu, sesuai namanya dimasak dengan menggunakan potongan bambu tidak dilakukan proses pemasakan yang umum dilakukan pada kue lainnya, seperti pengukusan atau pemanggangan, melainkan proses pemasakan ditempatkan pada lubang-lubang yang ada pada wadah pengukusnya.
Saat kue sudah matang, alat pengukus ini akan mengeluarkan seperti suara peluit dan uap. Suara peluit dan uap inilah yang menjadikan kerinduan dalam menyantap enaknya kue puthu bambu.
"Anak-anak suka banget kalau melihat cara memasak puthu karena ada sirine dan asapnya yang mengepul diserta aroma daun pandan," kata Rina.
Kue ini sebenarnya menjadi camilan tradisional yang sederhana, karena bahan dasar dari kue puthu sendiri adalah tepung beras yang diisi gula Jawa dan kemudian dimasak di dalam tabung bambu padat.
Saat sudah dimasak dan matang, biasanya untuk memberikan rasa gurih dan nikmat pada kue ini diberikan tambahan topping seperti kelapa parut.
Karakteristik kue puthu sendiri adalah lembut dan manis, dengan diberikan isian gula merah pada tengah-tengah tepung beras menjadikan rasa dari kue puthu bambu menjadi legit. Rasa legit, manis dan gurih yang dihasilkan pada satu gigitan kue puthu bambu menambah kenikmatan tersendiri.
Selain adanya rasa legit, manis dan gurih yang dihasilkan dari bahan dasar kue puthu bambu, ditambahkan aroma yang menggugah selera dalam melahap kue puthu bambu ini. Aroma pandan menjadikan kue ini kian menggoda untuk menyantapnya.
"Harganya cuma Rp1.500 per biji, murah-murah saja," kata Rina yang pernah bekerja di sebuah apotek daerah Menur. Dia keluar karena apotek tempatnya pindah ke Surabaya Barat, jauh dari rumahnya di Jalan Kalibokor.
Kue tradisional peninggalan nenek moyang itu rasanya tak pernah berubah, tetap gurih sampai sekarang. Enaknya disajikan selagi masih hangat sambil minum teh atau ngopi bareng. Kue satu ini juga termasuk murah meriah.
Advertisement