Lapas Porong Sulap Lahan Jadi Sumber Ketahanan Pangan
Program ketahanan pangan di Lapas Kelas I Surabaya di Porong tidak sekadar soal produksi hasil tani. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang pembinaan produktif bagi warga binaan agar memiliki bekal keterampilan saat kembali ke masyarakat.
Kepala Lapas Kelas I Surabaya Porong, Sohibur Rachman, menegaskan, pengembangan sektor pertanian di lingkungan lapas merupakan implementasi arahan pemerintah melalui Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Program ini juga selaras dengan upaya memperkuat ketahanan pangan nasional berbasis partisipasi berbagai elemen.
Di area lapas, lahan seluas sekitar 5.800 meter persegi dimanfaatkan secara optimal untuk budidaya berbagai komoditas hortikultura seperti terong, cabai, tomat, hingga jagung. Tidak berhenti di situ, pihak lapas juga menyiapkan pengembangan lahan tambahan seluas dua hektare untuk penanaman pepaya California.
“Meski belum dalam skala besar, kegiatan ini berjalan rutin dan sudah beberapa kali menghasilkan panen,” ujar Sohibur.
Yang menarik, proses pengelolaan lahan tersebut melibatkan langsung warga binaan. Mereka dilatih mulai dari tahap penanaman, perawatan, hingga panen. Keterlibatan ini dinilai penting sebagai bagian dari pembinaan kemandirian dan peningkatan keterampilan praktis.
Hasil panen yang diperoleh tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan internal lapas. Sebagian produk juga dipasarkan kepada masyarakat dengan harga terjangkau, bahkan didorong untuk ikut dalam kegiatan bazar murah di tingkat wilayah.
Sohibur juga mengapresiasi dukungan dari Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, termasuk kunjungan Asisten II Setda Bidang Perekonomian dan Pembangunan yang dinilai membuka peluang sinergi lebih luas.
Sementara itu, Asisten II Setda Sidoarjo, Bahrul Amig, menilai program ini sebagai langkah konkret yang memiliki nilai ganda. Selain memperkuat ketahanan pangan, kegiatan tersebut juga menjadi sarana efektif dalam menyiapkan warga binaan agar lebih siap secara ekonomi dan sosial saat kembali ke tengah masyarakat.
“Ini bukan hanya tentang pangan, tetapi juga tentang masa depan mereka. Ada keterampilan yang bisa menjadi bekal hidup setelah bebas,” katanya.
Program ketahanan pangan di Lapas Porong diharapkan terus berkembang dan menjadi model pembinaan berkelanjutan. Dengan pendekatan ini, lapas tidak hanya menjadi tempat menjalani hukuman, tetapi juga ruang pembentukan kemandirian dan harapan baru bagi warga binaan.
Advertisement