Ustad Abdul Somad Rilis Buku 35 Kisah Saat Maut Menjemput, Tiga Menteri Turut Hadir
Bedah buku berjudul " 35 Kisah Saat Maut Menjemput" karya ustad Abdul Somad ( UAS ) mendapat sambutan istimewa. Selain dihadiri tiga menteri Kabinet Merah Putih, juga mendapat sambutan meriah dari ribuan jemaah Masjid Masjid Baitut Tholibin, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta. Tiga menteri yang hadir pada bedah buku ini adalah
Mendikdasmen Abdul Mu’ti, Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Mendiktisaintek Brian Yuliarto. Mereka secara bergantian memberi sambutan di acara bedah buku.
Dalam sambutannya, Mendikdasmen Abdul Mu'ti menegaskan bahwa kegiatan keagamaan di lingkungan kementerian merupakan bagian dari upaya membangun budaya kerja yang lebih bermakna.
"Penuh tanggung jawab, menjauhkan diri dari pelanggaran hukum, termasuk perilaku yang mengarah pada korupsi,” kata Mu'ti .
Mu"ti menilai buku karya UAS ini memiliki pesan moral yang kuat bagi kehidupan pribadi maupun kepemimpinan.
“Buku ini sangat inspiratif karena mengingatkan kita bahwa kematian adalah nasihat paling nyata bagi manusia. Kisah-kisah di dalamnya menegaskan bahwa kehidupan memiliki batas dan kematian dapat datang kapan saja. Karena itu, selama hidup kita harus berbuat yang terbaik bagi masyarakat, umat, dan bangsa,” tuturnya.
Dalam refleksinya, ia menyinggung pelajaran sejarah tentang keterbatasan kekuasaan dengan mencontohkan kisah Amru bin Ash pada masa konflik kepemimpinan antara Ali bin Abi Talib dan Muawiyah. “Kepemimpinan dan jabatan ada batasnya. Karena itu, setiap pemimpin harus berhati-hati dalam menjalankan amanah dan tidak menyalahi aturan,” pesannya..
Menurutnya, pesan utama buku tersebut adalah kesadaran akan keterbatasan manusia dan pentingnya menjaga integritas dalam setiap peran yang diemban.
Mu'ti juga membagikan bukunya berjudul "Puasa Sebagai Gerakan Sosial".
Sementara UAS menjelaskan dalam buku berjudul "35 Kisah
Saat Maut Menjemput" merupakan rangkuman kisah tentang kematian orang orang hebat kekasih Allah. Dari Nabi Muhabat, para sahabatnya sampai kisah menjelang kematian Khalid bin Walid, yakni sahabat Nabi yang berjuluk Saifullah atau Pedang Allah, karena keberaniannya di medan perang.
Dalam bukunya itu Abdul Somat menyebut Khalid bin Walid itu telah berjuang di berbagai medan perang. Dia dikenal gigih dalam berjihad. Namun, dia meninggal karena sakit. Ketika kematian hendak menjemputnya, Khalid bin Walid berkata:
“Aku telah turut serta dalam 100 perang atau kurang lebih demikian. Tidak ada satu jengkal pun di tubuhku, kecuali terdapat bekas luka pukulan pedang, hujaman tombak, atau tusukan anak panah. Namun lihatlah aku sekarang, akan wafat di atas tempat tidurku. Maka janganlah mata ini terpejam (wafat) sebagaimana terpejamnya mata orang-orang penakut. Tidak ada suatu amalan yang paling aku harapkan daripada laa ilaaha illallaah, dan aku terus menjaga kalimat tersebut (tidak berbuat syirik).”
Khalid bin Walid memeluk Islam pada tahun 8 Hijriah saat perjanjian Hudaibiyah berlangsung. Pada mulanya, saudaranya lah yang pertama kali memeluk Islam, Al Walid bin Walid.
Ia kemudian menulis surat untuk Khalid.
“Bismillahirrahmanirrahim. Amma ba’d. Sesungguhnya aku tak menemukan sesuatu yang lebih mengherankan daripada jauhnya pikiranmu dari Islam. Engkau seorang yang cerdas. Tak seorang pun yang tidak mengenal agama seperti Islam. Aku pernah ditanya suatu kali oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dirimu. Beliau bertanya:
‘Mana Khalid?’
Aku menjawab, ‘Semoga Allah memberinya hidayah.’
Beliau bersabda lagi: “Orang seperti Khalid tidak mengenai Islam? Andaikan ia gunakan kehebatan dan ketangguhannya –yang selama ini ia gunakan untuk yang lain– bersama kaum muslimin, tentu akan lebih baik baginya.”
Bergegaslah wahai saudaraku untuk menjemput peluang-peluang kebaikan yang sempat luput darimu.
Khalid pun segera menuju ke Madinah bersama dengan Utsman bin Thalhah dan Amru bin Ash untuk masuk Islam.
Sesampainya disana, ia bertemu dengan saudaranya yang mengatakan bahwa Rasul telah mengetahui kedatangannya. Khalid pun masuk menemui Rasulullah dan membaiatnya. Sejak saat itu, Rasul tidak pernah memberikan apapun kepada sahabat lainnya melebihi apa yang ia berikan kepada Khalid bin Walid.
Rasul bersabda, “Jangan sakiti Khalid karena sesungguhnya ia adalah pedang di antara pedang-pedang Allah yang Dia hunuskan pada orang-orang kafir.”
Dalam perang Muho, Khalid bin Walid mendapatkan pujian dari Rasul atas kecakapannya dalam berperang.
“أخذ الراية زيد فأصيب، ثم أخذها جعفر فأصيب، ثم أخذها عبد الله بن رواحة فأصيب، ثم أخذها سيفٌ من سيوف الله، ففتح الله على يديه”. ومن يومئذٍ سُمِّي “سيف الله”،.
“Bendera perang dibawa oleh Zaid lalu berperang hingga syahid. Kemudian bendera diambil oleh Ja’far dan berperang hingga syahid. Setelah itu, bendera perang dibawa oleh pedang di antara pedang-pedangnya Allah (saifullah –yakni Khalid bin Walid-) hingga Allah memenangkan kaum muslimin.”
“Sebaik-baik hamba Allah dan saudara dekat adalah Khalid bin al-Walid. Khalid bin al-Walid pedang di antara pedang-pedangnya Allah.”
Khalid bin Walid seakan menyesal karena meninggal di tempat tidur dan tidak di medan perang dalam keadaan syahid.
Ustadz Abdul Somad berharap bukunya itu dapat menginspirasi mencari jalan hidup yang diridoi Allah, supaya bahagia dunia akherat.
Advertisement