Ambon Korban: Belajar dari Luka Kerusuhan untuk Menjaga Indonesia yang Majemuk
Sudah akrab puluhan tahun, baru sekarang benar-benar merasakan suasana sesungguhnya secara langsung. Itulah kota Ambon yang menjadi ibukota Provinsi Maluku.
Ini gara-gara saya punya menantu pria Ambon. Tepatnya Jawa-Ambon. Hanya dia lama tinggal di Surabaya. Sejak kerusuhan Ambon di akhir tahun 1990-an. Suaminya anak mbarep ini pengungsi sejak usia 5 tahun.
Sebetulnya, saya sudah tiga kali ke Ambon paska kerusuhan berkedok agama itu. Kemarin agak lama karena melayat besan yang meninggal dunia: dr Abdurahman Polanunu. Ia adalah puluhan tahun jadi satu-satunya dokter anak di pulau itu.
Yang paling istimewa bisa Salat Idul Adha di Masjid Al Fatah, Ambon. Masjid yang menjadi tempat pengungsian warga Muslim saat kerusuhan. Tak jauh dari masjid itu, ada Gereja Maranata yang menjadi basis warga Kristen.
Puluhan tahun saya akrab dengan kota Ambon dan tempat itu dalam imajinasi. Kok bisa? Ya. Sebab, saya pernah lama menjadi redaktur halaman Indonesia Timur. Tiap hari memeriksa dan memperbaiki berita kiriman dari kota ini. Juga saat kerusuhan Ambon terjadi.
Jangan bayangkan seperti sekarang. Yang orang bisa kirim gambar video setiap saat. Dulu, untuk mendalami daerah jarak jauh hanya bergantung kepada laporan pandangan mata wartawan. Terkadang dibantu dengan foto.
Dulu hanya dengan bantuan peta ketika harus menyunting laporan wartawan. Sehingga bisa menggambarkan peristiwanya secara benar. Membantu pembaca agar seakan-akan berada di lokasi peristiwa. Begitulah pekerjaan redaktur saat itu.
Karena itulah, setelah berkesempatan Salat Ied di Masjid Al Fatah, saya kembali mengenang imaji itu. Membayangkan para pengungsi muslim saat terjadi kerusuhan. Konflik primordial yang terjadi di masyarakat yang sudah punya alat pemersatu adat bernama Pela Gandong.
Pela Gandong adalah sistem ikatan persaudaraan dan perjanjian sosial antar kampung (negeri) di Maluku. Pela artinya perjanjian persaudaraan. Sedang Gandong berarti saudara kandung yang berasal dari satu rahim. Sistem ini mengikat masyarakat dalam solidaritas, gotong royong, dan perdamaian.
Demikianlah warga Ambon yang berbagai suku, marga dan keyakinan itu membangun kebersamaan. Mereka selalu damai sejak lama. Karena itu banyak yang tidak percaya kerusuhan berbasis agama itu bisa pecah di sana. Yang sempat membawa ratusan korban jiwa.
Saya juga melewati Gereja Maranata yang menjadi tempat pengungsian warga Kristen. Yang lokasinya tak jauh dengan Masjid Al Fatah. Dua tempat ibadah itu memang berada di pusat kota yang indah karena terdiri atas bukit dan laut itu.
Kerusuhan itu jelas menjadi luka yang tak diharapkan semua orang yang waras. Karena itu, ketika Wakil Presiden Jusuf Kalla saat itu berjuang mendamaikan secara tuntas, maka itu adalah berkah yang luar biasa bagi warga Ambon. Juga bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan.
Di sinilah saya menjadi paham mengapa masalah ini bisa mengusik kemarahan ketika peran pendamai ini dipermasalahkan. Hanya karena kepentingan politik dari orang-orang di Jakarta yang dinilai kurang memiliki empati terhadap sejarah pedih itu.
Memang, bagi orang yang tidak pernah kehilangan rumah, mungkin kerusuhan hanya angka statistik. Bagi orang yang tidak pernah menjadi pengungsi, konflik hanya catatan sejarah di buku pelajaran.
Namun bagi mereka yang mengalaminya, kerusuhan adalah kenangan tentang malam-malam yang penuh ketakutan, tentang keluarga yang terpisah, tentang masa kecil yang dirampas oleh kebencian yang sebenarnya tidak mereka pahami.
Saya melihat itu dari cerita keluarga. Dari percakapan yang sesekali muncul ketika mengenang masa lalu. Dari cara orang-orang Ambon berbicara tentang perdamaian dengan nada yang berbeda.
Mereka tidak berbicara tentang perdamaian sebagai konsep. Mereka berbicara tentang perdamaian sebagai kebutuhan hidup. Sebab mereka pernah merasakan betapa mahal harga sebuah konflik.
Anak mantu saya merasakan itu di masa kecilnya. Di usianya yang baru 5 tahun, ia harus berpisah dengan kedua orang tuanya untuk mengungsi ke Surabaya. Bersama kakak perempuannya yang masih kecil. Berhari-hari menumpang kapal perang ke Surabaya.
Karena itu, ketika berkunjung ke Ambon kali ini, yang saya lihat bukanlah kota yang menyimpan dendam. Justru sebaliknya. Saya melihat kota yang berusaha berdamai dengan masa lalunya.
Saya melihat warga Muslim dan Kristen yang kembali hidup berdampingan. Saya melihat semangat Pela Gandong yang terus dihidupkan sebagai pengingat bahwa persaudaraan harus lebih kuat daripada perbedaan.
Tentu luka sejarah tak pernah benar-benar hilang. Namun bangsa yang dewasa bukanlah bangsa yang melupakan lukanya. Bangsa dewasa adalah bangsa yang mampu mengingat luka itu dengan jernih agar tidak berulang.
Sejarah kerusuhan Ambon semestinya tidak dijadikan bahan untuk saling menyalahkan. Apalagi dijadikan komoditas politik sesaat. Apalagi hanya untuk kepentingan mendulang suara dukungan.
Terlalu banyak air mata yang jatuh untuk sekadar dijadikan bahan adu narasi. Terlalu banyak korban yang kehilangan masa depan untuk dijadikan alat meraih keuntungan politik jangka pendek.
Yang jauh lebih penting adalah menjadikan pengalaman pahit itu sebagai pelajaran bersama. Bahwa konflik sosial tidak pernah lahir begitu saja. Ia selalu ada pemantiknya.
Biasanya, kekerasan diawali oleh prasangka. Diperbesar oleh provokasi. Lalu dipelihara oleh kepentingan. Ketika masyarakat kehilangan ruang dialog dan elite kehilangan tanggung jawab moral, maka percikan bisa berubah menjadi kebakaran besar.
Hari ini, perjalanan itu menjadi semakin relevan. Saat kita baru saja memperingati Hari Kelahiran Pancasila, 1 Juni. Hari yang diyakini sebagai hari lahirnya falsafah yang jadi dasar ideologi bangsa. Yang telah menyatukan bangsa.
Apalagi ditambah era di tengah derasnya media sosial, disrupsi politik, polarisasi identitas, dan ketidakpastian global. Saat benih-benih perpecahan bisa menyebar jauh lebih cepat dibandingkan dua puluh tahun lalu.
Jika dahulu orang harus menyebarkan selebaran atau isu dari mulut ke mulut, kini kebencian dapat menyebar hanya dengan satu sentuhan jari. Siapa pun bisa memantik kebencian dan permusuhan dari mana dan kapan saja.
Singkat kata, menjaga Indonesia tak cukup hanya dengan membangun jalan, pelabuhan, atau gedung tinggi. Yang tak kalah penting adalah membangun narasi kebangsaan yang sehat. Narasi yang menghormati kemajemukan. Yang menjadikan perbedaan sebagai kekuatan, bukan ancaman.
Indonesia lahir bukan dari keseragaman. Indonesia berdiri karena keberanian para pendiri bangsa menerima kenyataan bahwa negeri ini terdiri atas ribuan pulau, ratusan suku, berbagai bahasa, dan beragam keyakinan. Kemajemukan adalah fondasi yang harus dirawat.
Saatnya Indonesia masa depan di bangun dari titik yang sama: empati. Empati kepada mereka yang pernah menjadi korban konflik. Empati kepada kelompok yang berbeda pandangan. Empati kepada mereka yang berasal dari latar belakang agama, suku, dan budaya yang berbeda.
Tanpa empati, kemajemukan hanya menjadi slogan. Dengan empati, kemajemukan berubah menjadi energi yang mempersatukan. Melalui empati kita bisa menjadikan bangsa ini besar sesuai dengan cita-cita bersama.
Ambon telah memberikan pelajaran mahal kepada bangsa ini. Pelajaran yang dibayar dengan air mata, kehilangan, dan trauma yang panjang. Tugas kita sekarang bukan sekadar mengenangnya, tapi memastikan tragedi serupa tidak pernah terulang kembali.
Mengapa demikian? Sebab Indonesia yang kuat bukan Indonesia yang bebas dari perbedaan. Indonesia yang kuat adalah Indonesia yang mampu mengelola perbedaan menjadi persaudaraan.
Dari Ambon, kita belajar berkorban. Berkorban untuk bersama menjaga persaudaraan. Berkorban untuk bersama menyembuhkan luka. Berkorban menghapus rasa pilu akibat kesalahan masa lalu.
Sungguh tahun ini saya merayakan Hari Raya Korban di kota yang warganya berkorban dengan luka sejarah yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Dari Ambon saya belajar berkorban melawan ego kita.
Advertisement