Das Kapital (4)
Oleh:
Himawan Bayu Patriadi, PhD.,
Dosen Hubungan Internasional,
Universitas Jember.
Merujuk pada judul bukunya, Das kapital, salah satu konsep sentralnya adalah “Kapital” itu sendiri. Seperti telah dielaborasi dalam artikel “Das Kapital (3)” [ Ngopibareng, 24 Mei 2025], Karl Marx memandang kapital bukan sebagai properti atau faktor produksi, seperti tanah atau mesin; melainkan sebuah hubungan sosial yang spesifik, antara majikan (employer) dan buruh (labourer), dalam sistem produksi kapitalis (the capitalist mode of production). Jadi, sekali lagi, Kapital bukanlah konsep ekonomi, melainkan konsep sosiologi. Marx menganalisisnya guna menjelaskan ketimpangan ekonomi yang diakibatkannya, eksploitasi sistemik yang berlangsung di dalamnya, proses dehumanisasi yang menyertainya, dan fenomena alinasi yang ditimbulkannya.
Atensi Karl Marx terhadap isu Kapital tidak muncul secara spontan. Pengamatan atas peristiwa sekitar menggumpalkan ketertarikannya. Setelah berhasil meraih PhD dari Universitas Jena tahun 1841, dengan disertasi bertajuk “The Difference Between the Democritean and Epicurean Philosophy of Nature”, serentetan peristiwa membetot perhatiannya. Di antaranya, masalah kriminalisasi para pemulung kayu (“woodthieves”) di Provinsi Rhine, Prusia tahun 1842; menyusul pelarangan pengambilan kayu baik hutan privat maupun hutan komunal. Pemicunya, komersialisasi agraris dan keinginan orang kaya pemilik tanah dan hutan untuk maksimalisasi keuntungan dari kedua propertinya ini. Akibatnya, petani kehilangan hak adatnya untuk memungut kayu demi kelangsungan hidupnya. Pada tahun yang sama, pecah the Plug Plot Riots di Inggris, aksi besar-besaran kaum buruh yang menolak pemotongan upah. Selain itu, tahun 1844, pecah pemberontakan buruh tekstil di Silesian, Polandia; menyusul mekanisasi pabrik dan pemotongan upah. Keresahan sosial juga terjadi di Perancis. Puncaknya tahun 1848, dengan meletusnya The February Revolution. Salah satu pemicunya, buruknya kondisi ekonomi buruh sehingga membangkitkan aksi kolektif berbagai lapisan kaum bawah (lower-classes). Dalam pandangan Marx, benang merah dari semua gejolak sosial di Eropa ini adalah antagonisme kepentingan antara kelompok ‘orang kaya’ (the haves) dan ‘kaum miskin’ (the have nots). Tak pelak, pengamatannya, dilengkapi dengan jiwa emansipatorisnya, menjadi agregat penyengat bagi Marx untuk mengkajinya secara komprehensif dalam Das Kapital.
Sebagai sebuah hubungan sosial, Kapital juga tak berjalan dalam ruang hampa. Hubungan ini berlangsung dengan sebuah prinsip tersembunyi (an underlying principle), yakni “kebebasan” (freedom) dalam ranah industri. Ditegaskan oleh Jayati Ghosh (2017), sistem produksi kapitalis mengadopsi dua prinsip ‘kekebasan’. Di satu sisi, buruh bebas untuk menjual ‘tenaga kerja’ (labour power)-nya kepada siapa pun, tanpa harus terikat pada kekuatan sosial-ekonomi apa pun. Di sisi lain, terdapat kebebasan bagi siapa pun untuk memiliki alat-alat produksi (the ownership of the means of production). Akibat terkungkung keterbatasan ekonomi, dalam situasi Kapital seperti ini, tak ada pilihan bagi kaum buruh kecuali harus menjual labour power-nya guna menopang survivalitasnya dalam kehidupannya sehari-hari.
Analisa Karl Marx tentang Das Kapital berangkat dari atribut utama kapitalisme, yakni akumulasi kekayaan pada segmen sosial tertentu. Ia menegaskan: “Kekayaan masyarakat yang di dalamnya berlaku mekanisme produksi kapitalis, menampilkan sosoknya sebagai ‘akumulasi komoditas yang sangat besar’ (the wealth of those societies in which the capitalist mode of production prevails, presents itself as ‘an immense accumulation of commodities’)”. [ Capital, Vol.1, 1887:27].
Mengingat unit dasar Kapital adalah komuditas, maka investigasi Marx berangkat dari konsep ini. Sekilas, komuditas adalah istilah biasa. Tapi, dalam dirinya termuat pengertian yang kompleks. Pasalnya, sebagai sebuah obyek, komuditas punya dua macam nilai. Pertama, adalah ‘nilai guna’ (use-value). Nilai ini akan menjadi realita jika suatu barang digunakan atau dikonsumsi. Sifatnya relatif konstan, karena merujuk pada besaran yang pasti (definite magnitude). Kedua, disebut ‘nilai tukar’ (exchange-value). Dengan nilai tukar ini, komuditas bisa diperdagangkan atau ditukarkan dengan barang lain. Walhasil, exchange-value besarannya tak pasti (indefinite magnitude), selalu berubah, cenderung meningkat, dan biasanya lebih besar dari use-value. Dalam hubungan sosial kapitalis, kedua jenis nilai komuditas ini berkaitan. Esensinya, “'nilai-pakai’ merupakan gudang penyimpanan kekayaan guna mendapatkan exchange value ([the use-values] are the material depositories of exchange values) [ Capital, Vol.1, 1887:27].
Berangkat dari dua macam nilai komuditas di atas, Karl Marx membangun teorinya. Salah satunya, Surplus-Value Theory. Per-definisi, Marx mengatakan: “Peningkatan atau kelebihan atas nilai asli sebuah barang saya sebut ‘nilai lebih’ (this increment or excess over the original value I call ‘surplus-value” [ Capital: Vol.1, 1887:106]. Dalam elaborasinya tentang Das Kapital, Marx menggunakan formula kapital yang umum, yakni sirkulasi “ M (Money) – C (Commodity) – M (more Money)”. Ilustrasinya, jika seseorang membeli 1 ton jagung seharga 5 juta rupiah kemudian menjualnya lagi sebesar 6 juta rupiah; maka kelebihan 1 juta rupiah dari harga beli merupakan “surplus-value”. Sekilas perolehan surplus-value sebesar 1 juta rupiah secara umum dipandang ‘wajar’, karena kelebihan ini dianggap sebagai ‘keuntungan’ (profit) dalam berniaga.
Tapi, Karl Marx berpandangan bahwa sirkulasi di atas bukan hanya berdimensi ekonomis. Melalui investigasinya, sirkulasi ini juga mengandung muatan, bahkan punya implikasi sosiologis. Memang, prosesnya hanya melibatkan dua unsur, yakni commodity dan money. Namun, setiap penggal sirkulasi ini punya karakter yang berbeda. Penggal “M (Money) – C (Commodity)” dinamakannya ‘produksi Komuditas’ (the production of commodity). Prosesnya, merupakan kesatuan proses kerja dan proses penciptaan nilai yang melibatkan bahan mentah dan kerja buruh. Dalam penggal ini, buruh merupakan ‘pembuat nilai’ (value creator), karena mengubah bahan mentah menjadi komuditas. Orientasinya, menciptakan use-value dari komuditas tersebut.
Sementara itu, penggal “C (Commodity) – M (Money)”, Karl Marx menyebutnya sebagai ‘proses produksi Kapitalis’ (the capitalist process of production). Prosesnya, mencerminkan kesatuan proses kerja dan proses produksi surplus-value. Fokusnya memperbesar exchange value guna meraih surplus-value. Pada penggal inilah ‘Kapital’ lahir. Seperti ditegaskan Karl Marx: “Uang yang bersirkulasi dalam penggal terakhir ini [C-M] ditransformasikan, [atau] telah menjadi capital. … Sirkulasi komuditas merupakan titik awal kapital, produksi komuditas, sirkulasinya, dan bentuk sirkulasi yang [kemudian] lebih berkembang, yang disebut dengan perdagangan, membentuk landasan historis dari mana ia [kapital] muncul (Money that circulates in the latter manner [C-M] is thereby transformed into, becomes capital. … The circulation of commodities is starting-point of capital. The production of commodities, their circulation, and that more developed from of their circulation called commerce, these form the historical groundwork from which it rises)”. [ Capital, Vol.1, 1887:104]
Pertanyaannya, bagaimana nasib buruh dalam kontinum sirkulasi kapital “M-C-M”? Pada sistem produksi kapitalis ini, Karl Marx menemukan ironi. Bahkan, dalam proses produksi, buruh justru menerima ketidakadilan beruntun. Ketidakadilan ini setidaknya bisa dilihat dalam dua proses. Pertama, dalam penggal the production of commodities (M-C), buruh sering digaji di bawah harga use-value komuditas yang diproduksi. Padahal, “komuditas ini bukan hanya berpotensi untuk sekedar menjadi sumber ‘nilai’, tetapi juga sumber nilai yang lebih besar dari nilai yang dimiliki semula (this commodity possesses of being a source not only of value, but of more value than it as itself)”. [ Capital, Vol.1, 1887: 135-136]. Ilustrasinya, sebagai value-creator, seorang buruh memerlukan setengah hari untuk membuat use-value satu unit produk. Untuk tenaga kerja (labour) yang dipakai selama 6 jam ini, ia menerima upah 3 shillings, jumlah yang sebenarnya hanya mencukupi konsumsi untuk hidupnya selama sehari. Namun, ironisnya, pemilik modal (kapitalis) mengupah 3 shillings ini untuk membayar waktu kerja seorang buruh selama satu hari (12 jam). Tak pelak, pemilik modal menikmati tambahan nilai dari kelebihan jam kerja (labour time surplus) buruh. Semakin banyak buruh yang dipekerjakannya, semakin banyak kelipatan nilai yang dinikmatinya dari labour time surplus ini.
Kedua, ketidakadilan dalam the capitalist process of production (C-M). Meski dalam the production of commodities buruh adalah kreator use-value, dalam penggal ini buruh tak dihargai, karena memang tak diperlukan lagi. Pasalnya, penggal C-M ini merupakan ‘domain eksklusif’ kapitalis untuk menetapkan exchange value komuditas guna meraih surplus-value yang diinginkannya. Karl Marx menegaskan: ”Ketika komuditas dipertukarkan, wujud nilai tukarnya sama kali terlepas dari nilai-gunanya (When commodities are exchanged, their exchange-value manifest itself as something totally independent of their value)”. [ Capital, Vol.1, 1887:28]. Lalu, bagaimana dengan status peran buruh sebagai kreator use-value komoditas? Penjelasan Marx cukup logis, tapi sarkastis: “Inilah layanan khusus yang [selalu] diharapkan oleh kapitalis dari tenaga kerja [buruh], dan dalam transaksi ini ia bertindak sesuai dengan ‘hukum abadi’ pertukaran komuditas (this is the special service that the capitalist expects from labour-power, and in this transaction he acts in accordance with the ‘eternal laws’ of the exchange of commodities”. [ Capital, Vol.1, 1887:136]. Tragisnya, buruh selalu menerima keadaan karena memang tak ada pilihan.
Elaborasi kritis Karl Marx tentang kedua bentuk nilai (value) komuditas, menghantarkan kita pada beberapa catatan: Pertama, ketimpangan ekonomi yang tercermin dari akumulasi dan terkonsentrasinya kekayaan yang besar pada kaum kapitalis, tak lepas dari keuntungan ganda yang diperolehnya dalam sirkulasi komuditas, yang disebut sebagai ‘perdagangan’ (commerce), yaitu dari labour time surplus dan ‘hak’ eksklusifnya atas exchange value dari komuditas. Meski sebagai produsen sekaligus penjual komuditas, dalam sirkulasi ini perilaku ekonomi kapitalis mirip sebagai seorang pembeli. Kata Marx: “Kapitalis kita adalah seorang ‘progressist’ yang tegas dengan dua tujuan [yaitu] menghasilkan nilai guna yang memiliki nilai tukar, dan ingin menghasilkan komuditas yang nilainya lebih besar daripada jumlah nilai komoditas yang digunakan dalam produksinya, yaitu alat produksi dan tenaga kerja, yang telah ia beli dengan uangnya di pasar terbuka (Our capitalist is a decided “progressist” [who has] two objects: he wants to produce a use-value that has a value in exchange, and desires to produce a commodity whose value shall be greater than the sum of the values of the commodities used in its production, that is, of the means of production and the labour-power, that he purchased with his good money) in open market". [ Capital, Vol.1, 1887:131].
Kedua, the capitalist mode of production mengidap proses eksploitasi. Pasalnya, sebagai kreator use-value komuditas buruh hanya menikmati upah yang minim. Sebaliknya, kapitalis justru menikmati dua surplus. Selain mendapatkan labour time surplus, kapitalis juga menangguk the surplus-value komuditas yang use-value-nya dihasilkan buruh. Dalam kaitan ini, Karl Marx menyoroti karakter commerce. Dengan mengutip Benyamin Franklin, ia menegaskan: “War is robbery, commerce is generally cheating!”. Bahkan, secara pedas ia mengkritik bahwa “tingkat nilai lebih adalah ekspresi yang tepat untuk tingkat eksploitasi tenaga kerja oleh kapital, atau pekerja oleh kapitalis … Kapital adalah tenaga kerja yang mati, seperti vampir, yang [hanya] bisa hidup dengan menghisap tenaga kerja, dan semakin lama hidup, semakin banyak tenaga kerja yang dihisapnya. Selama waktu buruh bekerja, selama itu pula kapitalis mengonsumsi tenaga kerja yang telah dibelinya dari buruh (the rate of surplus-value is therefore an exact expression for the degree of exploitation of labour power by capital, or of the labourer by the capitalist … Capital is dead labour, that, vampire-like, only lives by sucking living labour, and lives the more, the more labour it sucks. The time during which the labourer works, is the time during which the capitalist consumes the labour-power he has purchased of him)”. [ Capital, Vol.1, 1887: 153 dan 163].
Ketiga, dua bentuk nilai komuditas, yakni use-value dan exchange-value, adalah novelty investigasi Karl Marx. Dalam kritiknya terhadap ilmu Ekonomi klasik, ia menegaskan: “Salah satu kegagalan utama Ekonomi klasik, di mana ilmu ini tak pernah berhasil, adalah analisisnya terhadap komuditas, dan, khususnya, terhadap nilai [guna]-nya, yang mana nilai ini [bisa berubah] menjadi nilai tukar. Bahkan Adam Smith dan [David] Ricardo, [sebagai] representasi terbaik dari aliran [ilmu Ekonomi klasik] ini, memperlakukan bentuk nilai sebagai sesuatu yang tidak penting, karena [dianggap] tidak memiliki hubungan dengan sifat bawaan komuditas. Alasannya, bukan semata-mata karena perhatian keduanya sepenuhnya terserap dalam analisis besaran nilainya. [Tapi], karena permasalahannya memang tersembunyi lebih dalam (It is one of the chief failings of classical economy that it has never succeeded, by means of its analysis of commodities, and, in particular, of their value, in discovering that form under which value becomes exchange value. Even Adam Smith and [David] Ricardo, the best representatives of the school, treat the form of value as a thing of no importance, as having no connection with the inherent nature of commodities. The reason for this is not solely because their attention is entirely absorbed in the analysis of the magnitude of value. It lies deeper)”. [ Capital, Vol.1, 1887: 57, footnote no.33]. Elaborasi ini merupakan salah satu bentuk kelebihan Marx. Hampir semua karyanya, termasuk Das Kapital; kekuatannya terletak pada daya kritiknya. Wallahua’alam … (Bersambung)
Advertisement