Asosiasi Sopir Logistik Indonesia Minta Lintasan Penyeberangan Ketapang-Lembar Dibuka Kembali
Ribuan sopir yang tergabung dalam Asosiasi Sopir Logistik Indonesia (ASLI) meminta rute penyeberangan Ketapang, Banyuwangi menuju Lembar, Lombok Barat dibuka kembali. Agar arus pengiriman logistik ke wilayah Nusa Tenggara Barat dan sekitarnya lancar. Aspirasi mereka ini disampaikan dalam hearing di DPRD Banyuwangi bersama instansi terkait, Rabu, 28 Januari 2026.
Hearing dipimpin Ketua DPRD Banyuwangi, I Made Cahyana Negara. Hadir juga perwakilan dari ASDP Ketapang, Gapasdap, INFA, BPTD, KSOP Tanjungwangi, Dinas Perhubungan dan Kepolisian.
Ketua ASLI, Slamet Barokah, mengatakan, prinsipnya para sopir ingin kelancaran pendistribusian barang logistik dari Pulau Jawa ke Nusa Tenggara Barat. Dia menyebut, pihaknya sudah lama menyampaikan keinginan agar lintasan penyeberangan Ketapang-Lembar dapat dibuka kembali.
"Kalau masalah Ketapang-Lembar dibuka lagi, itu udah dari dulu kami mengajukan. Kami sudah sering kok bersurat ke Kementerian terkait, bersurat kepada lembaga terkait, tapi ya sampai saat ini tidak ada responnya," jelasnya.
Dia menyebut, ditutupnya lintasan Ketapang-Lembar yang dialihkan ke Jangkar-Lembar sejak awal 2024 memicu kemacetan di sekitar Pelabuhan Ketapang.
"Kemacetan di Banyuwang ini terus-terus dan terus terjadi," jelasnya.
Dia menyebut, saat ini mayoritas sopir lebih memilih kapal di Pelabuhan Tanjungwangi, Banyuwangi,untuk menuju Lombok. Dia menyebut, Pelabuhan Jangkar posisinya kurang strategis bagi para sopir logistik. Khususnya bagi para sopir logistik yang berdomisili di Banyuwangi.
Faktor lainnya, fasilitas di sekitar Pelabuhan Jangkar kurang memadai. Dan yang paling menjadi pertimbangan adalah harga tiketnya jauh lebih mahal dibanding dengan tiket kapal dari Pelabuhan Tanjungwangi, Banyuwangi ke Pelabuhan Gilimas maupun tiket Kapal Ketapang-Lembar saat masih beroperasi.
"Harga tiket yang sangat jauh, Rp900 ribu perbedaannya dengan Banyuwangi. Banyuwangi-NTB sama Jangkar-NTB selisihnya Rp900 ribu lumayan loh. Sedangkan perjalanan dari Asembagus ke Banyuwangi paling cuma nambah biaya solar Rp100 ribu-Rp150 ribu untuk memuatan logistik," tegasnya.
Sebagai perbandingan, saat ini tiket kapal dari Pelabuhan Tanjungwangi Banyuwangi menuju Pelabuhan Gilimas, Lombok, untuk truk tronton sebesar Rp4.550.000. dan truk engkel sebesar Rp3.550.000. Sedangkan tiket kapal dari Jangkar menuju Lembar untuk truk tronton sebesar Rp5.650.000. dan truk engkel Rp4.206.700
Oleh karena itu, dia berharap lintasan Penyeberangan Ketapang-Lembar yang sudah pernah ada bisa dibuka kembali. Apalagi mayoritas anggota ASLI yang berjumlah 2.154 sopir logistik mayoritas adalah putra daerah Banyuwangi. Sebagian besar rutenya adalah ke wilayah Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.
Dalam kesempatan itu, Manager Usaha ASDP Ketapang, Dwi Piet Haryanto, mengatakan, keputusan untuk pembukaan lintasan Penyeberangan itu berada di pusat.
"Kami akan laporkan ke pimpinan elbih dahulu," jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Perwakilan DPC Gapasdap Banyuwangi, Mastiga Sofyan, mengatakan, dari sisi operator kapal, penyeberangan dari Jangkar ke Lembar ini sering membuat tekor. Utamanya dari Lembar ke Jangkar. Seringkali muatan sangat sedikit. Karena sopir lebih memilih lewat Lembar-Padang Bai. Karena dari Lembar ke Jangkar terlalu jauh.
"Dari Lembar ke Jangkar muatannya di bawah 20 perseb," terangnya.
Dia menyebut, memang selama ini banyak sopir yang menginginkan lintasan Ketapang-Lembar dibuka kembali. Namun, jika dibuka kembali diharapkan bisa menggunakan dermaga yang di Bulusan dan menggunakan kapal yang eksisting di lintasan Ketapang-Gilimanuk, bukan dari lintasan lain.
"Kalau bisa di dermaga Bulusan. Tapi harus melibatkan kapal lintasan terdampak yakni dari kapal Ketapang-Gilimanuk," jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Ketua DPRD Banyuwangi, Made Cahyana Negara mengatakan, pihaknya menjembatani aspirasi dari sopir logistik dengan pihak terkait. Salah satujya mendorong lintasan Ketapang-Lembar supaya dibuka lagi.
"Karena ini juga terbukti mengurai kemacetan. Tadi sudah dijawab oleh ASDP, kalau hari ini masih belum.Tapi kalau bicara kemungkinan ya mungkin saja," terangnya.
Dia menegaskan, DPRD Banyuwangi mendukung aspirasi para sopir agar lintasan Ketapang-Lembar dibuka kembali. Karena ini menyangkut dengan urusan yang ada di Kabupaten Banyuwangi.
"Kalau macet pertumbuhan di Kabupaten Banyangi juga macet, orang mau masuk ke Kabupaten Banyangi juga tidak bisa. Ini juga berdampak terhadap masyarakat," ujarnya.
Advertisement