10 Indikator Welfare State, Negara Sejahtera
Para pendiri negara (The Founding Fathers) Indonesia telah berpikir pokok bahwa negara yang merdeka untuk kemakmuran sebesar-besarnya bagi rakyat. Rakyat yang sejahtera.
Dalam konstitusi telah menetapkan Indonesia untuk berada di jalur negara kesejahteraan. Hanya saja, ada sejumlah inkonsistensi kebijakan ekonomi yang membuatnya tidak sepenuhnya koheren dengan visi negara kesejahteraan.
Lalu bagaimana parameter atau indikator untuk meraih negara sejahtera? KH Husein Muhammad, ulama pesantren yang mencoba menjelaskan soal tersebut. (Redaksi)
Seorang teman bertanya bagaimana sebuah negara digolongkan atau dinilai sebagai negara maju dan sejahtera?.
Aku mencoba menjawab:
Masyarakat/bangsa bisa dipandang sejahtera jika memenuhi 9 kriteria/indikator ini:
Pertama, jika kebanyakan masyarakat berpikir substantif, isi, bukan formalistik/kulit/permukaan.
Kedua, pendidikan dikelola dengan baik, dan disampaikan melalui metode dialektika, bukan indoktrinasi.
Ketiga, jika tidak banyak undang-undang/regulasi.
Keempat, jika polisi banyak yang nganggur
Kelima : tidak banyak pengangguran
Keenam, jika sedikit koruptor.
Ketujuh : jika banyak masyarakat yang bersedekah dan tersenyum.
Kedelapan : jika masyarakatnya lebih aktif, kreatif dan banyak bekerja daripada banyak bicara.
Kesembilan : jika tidak banyak orang yang mengeluh, emosional dan stres.
Kesepuluh : jika di mana-mana banyak orang yang membaca buku dan menulis
Nah. Bagaimana Jika yang terjadi di sebuah negara adalah sebaliknya?.
Lalu bagaimana keadaan di negera kita, Indonesia, ini ya?
Jangan Tertipu dan Terbawa Arus
Suatu hari aku membaca kitab "Syaraf al Ummah al Muhammadiyyah", Kemuliaan umat Nabi Muhammad, karya Muhaddits, ahli Hadits besar, Sayyid Muhammad Alawi al Maliki. Di situ ada pernyataan yang menarik yang penting dan relevan.
Jangan Terbawa Arus Mainstream yang Buruk
Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki, ahli hadits zaman ini dalam bukunya "Syaraf al-Ummah al-Muhammadiyah", menyebut hadits Nabi tentang bagaimana sikap kita pada โZaman Fitnahโ, zaman penuh ujian/cobaan.
Disebutkan :
ูุงู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู : ุงุฆุชู ุฑูุง ุจุงูู ุนุฑูู ูุงูุชููุง ุนู ุงูู ููุฑ. ุญุชู ุฅุฐุง ุฑุฃูุช ุดูุญููุง ู ูุทูุงุนุงู ูููููู ู ูุชููุจูุนุงู ูุฏููููุง ู ูุคูุซูุฑูุฉู ููุฅูุนูุฌูุงุจู ููููู ุฐูู ุฑูุฃููู ุจูุฑุฃููููู ููุนูููููู ุจูููููุณููู ููุฏูุนู ุนููููู ุงููุนูููุงู ู ููุงูููู ู ููู ูุฑุงุกูู ุฃููููุงู ู ุงูุตุจุฑ. ุงูุตุจุฑู ูููููู ู ูุซููู ุงููููุจูุถู ุนูู ุงูุฌู ุฑ. ููุนุงู ู ููู ู ุซู ุฃุฌุฑ ุฎู ุณูู ุฑุฌูุง ูุนู ููู ู ุซู ุนู ูู". ุฑูุงู ุงุจู ู ุงุฌู ูุงูุชุฑู ุฐู ูุงุจู ุฏุงูุฏ .
โNabi saw, bersabda : โIkuti yang baik, hindari yang buruk/munkar, bahkan jika kamu melihat ada banyak orang yang sangat pelit, atau banyak orang yang menuruti hawa nafsunya, atau banyak orang yang mengejar kesenangan duniawi atau banyak orang yang membanggakan pendapat dirinya, maka jagalah dirimu dan tinggalkan perilaku umum yang buruk itu. Kamu harus bersabar menghadapi zaman penuh cobaan/ujian ini. Bersabar pada saat-saat tersebut seperti memegang bara api. Orang yang bersabar melakukannya memeroleh pahala 50 kali pahala orang yang melakukan hal ituโ.
(Syaraf al-Ummah al-Muhammadiyyah, hlm. 204).
Pidato Platon, Tuhan Menyayangi Semua
Plato/Platon/Aflathun, filsuf terbesar, murid Socrates dan guru Aristo itu, suatu hari menyampaikan berpidato atawa Khutbah di hadapan publik :
ุงููุง ุงููุงุณ ุงุณู ุนูุง ููุงู ู ูุงุดูุฑูุง ุงููู ุนูู ูุนู ู ุนูููู . ูุงุนูู ูุง ุงู ุงููู ุณุจุญุงูู ูุฏ ุณุงูู ุจูู ุฎููู ูู ู ูุงูุจ ุงููุนู ูุจุฐููุง ููู ูุงูุฉ. ูุงููู ูุง ูุงุนุชุจุฑูุง ุงูููู ุจุงูุตุญุฉ . ุงุณุจุบ ุงููู ุงููุนู ููู ููุนุงู ุฉ ุงุฌู ุนูู. (ุงููุงุทูู)
"Wahai manusia,
dengarkanlah kata-kataku ini.
Berterima kasihlah kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya kepadamu.
Ketahuilah bahwa Allah telah memberikan anugerah nikmat kepada semua makhluk-Nya tanpa membeda-bedakan mereka.
Pahami dan renungkan kata-kata ini dengan baik.
Allah melimpahkan segala nikmat-Nya dan itu untuk semua orang".
Lihatlah kata-kata filsuf Yunani klasik terbesar sepanjang zaman itu. Betapa indahnya.
Tuhan tidak membeda-bedakan latar belakang, identitas, agama, keyakinan dan jenis kelamin mereka.
Dia memberikan apa saja yang mereka butuhkan bagi hidup mereka.
(KH Husein Muhammad/06.03.25)
Advertisement