Warga Ring 1 Keluhkan Dampak Negatif Pabrik Pengolahan Batu Kapur di Blora
Sejumlah warga Dukuh Kedung Serut, RT 7, RW 4, Desa Jiken, mengeluhkan dampak operasional pabrik batu kapur milik PT. Pentawira Agraha Sakti. Warga yang berada di ring 1 pabrik pengolahan batu kapur ini merasa aktivitas pabrik yang menggangu aktivitas sehari-hari.
Pada Rabu, 24 Juli 2025, sejumlah warga berkumpul di rumah Ketua RT 7, Selamet, bersama Ketua RW 4, Jasmani. Mereka bekeluh kesah adanya dampak negatif yang dirasakan warga. Beragam permasalahan mulai dari gangguan kesehatan hingga minimnya perhatian sosial dari pihak pabrik pengolahan batu kapur yang berada tidak jauh dari pemukiman.
Satu keluhan utama warga adalah mata perih dan gangguan pernapasan disertai batuk-batuk, yang diduga disebabkan oleh debu sisa pembakaran batu kapur dari pabrik.
Selain itu, suara bising dari operasional pabrik, terutama pada malam hari dan menjelang pagi, juga menjadi gangguan bagi ketenangan warga. Warga juga merasa minimnya perhatian sosial dari pabrik.
Meskipun pernah menerima bingkisan berupa 2 kg beras, sirup, dan minyak, pada waktu lebaran, warga menilai hal tersebut belum cukup mencerminkan kepedulian berkelanjutan terhadap dampak yang dirasakan.
Ketua RW 4, Jasmani, berharap pihak pabrik memberikan kompensasi secara berkelanjutan. Sebagai bentuk perhatian sosial.
"Kami berharap agar pihak pabrik memberikan kompensasi kepada warga terdampak dan mengadakan pemeriksaan kesehatan secara berkala," ujar Jasmani diamini warga lainnya.
Tolong Pak Bupati!
Lebih dari itu, warga berharap tenaga kerja lokal ring 1 diutamakan dipekerjakan di pabrik tersebut. Baik yang memiliki keahlian (skill) maupun yang tidak (unskill). Khususnya bagi warga yang masih produktif. Keinginan warga sangat sederhana. Mereka berharap bisa mengisi posisi-posisi seperti pekerja di kantin atau tukang bersih-bersih.
"Dengan berdirinya pabrik, diharapkan bisa mengangkat derajat ekonomi warga," ujar Luluk warga lainnya.
Wanita yang merasakan dampak negatif pengolahan batu kapur tersebut, menyampaikan permohonan kepada Bupati Blora, Arief Rohman, agar mencari solusi atas berbagai keluhan yang mereka hadapi.
"Pak Bupati, kami semua warga yang ada di Kedung Serut Desa Jiken, mengeluhkan adanya debu, bising dari PT Pentawira. Mohon Pak Bupati memberi solusinya buat warga di sini. Kami rakyat kecil, Pak, tidak bisa apa-apa. Ke sana-ke sini tidak ada tanggapan sama sekali. Hanya disuruh sabar-sabar dan sabar," ungkap Luluk.
Belum Pernah Dimintai Izin Lingkungan
Di sisi lain, ternyata warga di ring 1 tidak pernah dimintai tanda tangan perizinan pendirian pabrik, sampai dengan saat ini. Hanya saja, sejumlah warga pernah diminta tanda tangan untuk pengeboran sumur air. Itu pun hanya beberapa warga.
"Sampai saat ini tidak ada dari pihak pabrik yang datang menemui warga untuk berkoordinasi terkait operasional atau dampak yang ditimbulkan," ujar Ketua RT 7 Selamet kepada wartawan.
Warga berharap bisa berkesempatan duduk bersama dengan Pemkab Blora untuk menjembatani komunikasu dengan pihak pabrik.
Terpisah, Bupati Blora, Arief Rohman, saat mengetahui keluhan warga, akan segera melakukan koordinasi.
"Terima kasih infonya, kita koordinasikan," ujar Bupati Blora melalui pesan singkatnya.
Sementara itu, perwakilan PT. Pentawira Agraha Sakti Rahman, sempat membantah adanya keluhan warga. Melalui pesan WhatsApp, ia menyatakan, keluhan warga selama ini tidak ada.
"Aktivitas kami malah membuka lapangan kerja," kata Rahman.
Terkait debu, Rahman mengklaim tidak berdampak buruk bagi tanaman.
"Debu dari stok pile mengandung PβOβ alami nonkimia yang menyuburkan. Saat survei ke petani, tanaman justru lebih unggul," ujarnya.
Advertisement