Stok Beras Jatim Melonjak, DPR RI Soroti Tantangan Distribusi dan Masa Simpan
Lonjakan stok beras di Jawa Timur menjadi sorotan dalam kunjungan kerja Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, ke kompleks pergudangan Bulog Banjar Kemantren, Senin, 4 Mei 2026. Di tengah capaian stok yang melimpah, ia menekankan pentingnya pengelolaan distribusi agar kualitas beras tetap terjaga hingga sampai ke masyarakat.
Dalam peninjauan ke lima gudang, Bambang memastikan kualitas beras medium yang disimpan masih sesuai standar, termasuk untuk stok lama tahun 2025. Ia menilai, kondisi fisik beras seperti warna dan tingkat pecahan (broken) menunjukkan pengelolaan yang semakin baik.
βSecara kualitas masih bagus. Ini menunjukkan sistem pengelolaan Bulog sudah semakin optimal,β ujarnya.
Namun, perhatian utama tertuju pada tingginya stok beras di Jawa Timur yang kini mencapai 1,3 hingga 1,5 juta ton. Angka ini meningkat signifikan dibanding sebelumnya yang berkisar 500 ribu ton. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi indikator positif menuju swasembada pangan nasional berbasis produksi dalam negeri.
Meski demikian, Bambang mengingatkan,melimpahnya stok harus diimbangi dengan strategi distribusi yang tepat. Ia meminta Bulog lebih proaktif berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah untuk mempercepat penyaluran, terutama bagi beras yang mendekati batas masa konsumsi.
βDistribusi harus menjadi prioritas, agar tidak ada stok yang kualitasnya menurun sebelum tersalurkan,β tegasnya.
Sementara itu, Wakil Pimpinan Bulog Wilayah Jawa Timur, Sugeng Hardono, menyebut, kunjungan DPR RI menjadi dorongan moral bagi jajarannya untuk terus meningkatkan kinerja. Ia memastikan Bulog berkomitmen menjaga kualitas beras sekaligus memperkuat penyerapan gabah petani.
Di kompleks Banjar Kemantren sendiri, kapasitas gudang mencapai 200 ribu ton dengan stok terisi sekitar 132 ribu ton. Secara total, kapasitas gudang Bulog di Jawa Timur mencapai 1,1 juta ton. Bahkan, tingginya pasokan membuat Bulog harus menyewa gudang tambahan untuk menampung hasil serapan.
Di sisi lain, peningkatan serapan gabah turut berdampak pada kesejahteraan petani. Harga pembelian gabah oleh Bulog berada di kisaran Rp6.500 per kilogram, sementara pihak swasta dapat mencapai Rp7.500 per kilogram.
Kondisi ini menciptakan persaingan sehat yang menguntungkan petani sekaligus mendorong peningkatan produksi nasional. Dengan stok melimpah dan kualitas yang terjaga, tantangan berikutnya bagi Bulog adalah memastikan distribusi berjalan efektif agar cadangan beras pemerintah benar-benar memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.
Advertisement