BRIN Bahas Inovasi dan Tren Riset Penyakit Menular, Fokus Dengue hingga Malaria
Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN menggelar Infectious Disease Hybrid Workshop di Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno Cibinong, Senin 11 Mei 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan peneliti BRIN dan mitra internasional untuk membahas perkembangan riset penyakit menular, mulai dari dengue, malaria, hingga resistensi antimikroba atau antimicrobial resistance (AMR).
Peneliti Pusat Riset Vaksin dan Obat BRIN, Doddy Irawan Setyo Utomo menjelaskan pemanfaatan platform bioteknologi berbasis ulat sutra, kultur sel serangga, dan mikroalga dalam pengembangan riset kesehatan terkait dengue.
Menurut Doddy, materi yang dipaparkan masih berupa gambaran umum pengembangan platform teknologi dan belum menjadi hasil akhir penelitian.
โPresentasi ini lebih memberikan overview terkait pengembangan platform dan potensi pemanfaatannya untuk riset penyakit menular ke depan,โ ujarnya dikutip di laman resmi brin.
Ia menilai pengembangan platform alternatif penting untuk mendukung sistem produksi biomedis yang lebih efisien, terukur, dan berkelanjutan.
โKami mencoba mengeksplorasi berbagai pendekatan bioteknologi yang memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut melalui kolaborasi riset,โ katanya.
BRIN Soroti Tantangan Eliminasi Malaria di Indonesia
Selain dengue, workshop juga membahas perkembangan riset malaria. Peneliti Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman BRIN, Rintis Noviyanti memaparkan tantangan dan strategi pengembangan agen antimalaria guna mendukung eliminasi malaria di Indonesia.
โMalaria masih menjadi tantangan kesehatan global maupun nasional. Penyakit ini tetap menjadi perhatian karena tantangannya sangat kompleks, mulai dari resistensi obat hingga kemampuan deteksi parasit yang masih terbatas,โ ujarnya.
Rintis menjelaskan sebagian besar kasus malaria di Indonesia masih terkonsentrasi di wilayah tertentu sehingga diperlukan pendekatan terintegrasi untuk mendukung target eliminasi malaria nasional.
Dalam paparannya, ia menjelaskan berbagai strategi riset yang tengah dikembangkan, seperti surveilans molekuler malaria, penguatan kapasitas informatika lokal, pengembangan metode diagnostik sensitif, hingga eksplorasi protein rekombinan untuk mendukung penelitian malaria.
โHal yang kami sampaikan dalam workshop ini merupakan gambaran umum arah pengembangan riset malaria, sekaligus peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan bersama,โ jelasnya.
Penguatan Kolaborasi Riset Penyakit Infeksi
Paparan lainnya disampaikan peneliti Pusat Riset Vaksin dan Obat BRIN, Dimas Fandi Praditya yang membahas perkembangan riset dan pendekatan teknologi dalam mendukung inovasi kesehatan untuk penyakit menular.
Menurut Dimas, penguatan riset penyakit infeksi membutuhkan integrasi lintas disiplin ilmu dan kolaborasi antarlembaga. โWorkshop ini menjadi ruang untuk berbagi perkembangan riset dan membangun jejaring kolaborasi yang lebih kuat,โ ujarnya.
Ia menambahkan sebagian materi yang dipresentasikan masih berupa pengenalan arah dan potensi pengembangan riset di masa mendatang.
โKami menyampaikan overview penelitian dan peluang pengembangannya di masa mendatang sehingga diharapkan dapat membuka ruang kerja sama riset lebih lanjut,โ katanya.
BRIN Bahas Ancaman Resistensi Antimikroba
Selain dengue dan malaria, workshop juga membahas isu resistensi antimikroba (AMR) yang kini menjadi perhatian global.
Peneliti Pusat Riset Veteriner BRIN, Susan M. Noor menekankan pentingnya pendekatan One Health dalam pengendalian penyakit infeksi dan resistensi antibiotik.
โAMR tidak hanya berkaitan dengan sektor kesehatan manusia, tetapi juga hewan dan lingkungan. Resistensi antimikroba bukan lagi isu tersembunyi karena peredarannya sudah melintasi berbagai sektor,โ ujarnya.
Menurut Susan, pengawasan lintas sektor sangat penting untuk memahami pola penyebaran resistensi antibiotik.
โPendekatan One Health diperlukan karena keterkaitan antara manusia, hewan, dan lingkungan sangat erat dalam penyebaran AMR,โ jelasnya.
Melalui workshop tersebut, BRIN menegaskan komitmennya dalam memperkuat kolaborasi riset nasional maupun internasional guna mendukung pengembangan inovasi kesehatan dan penanganan penyakit menular di Indonesia.
Advertisement